Triple *#na*


Bulan November di tahun ini bukanlah musim kemarau ataupun musim penghujan, karena saya tidak hendak membahas soal siklus musim di Indonesia seperti yang kita tahu saat sekolah dulu. Mau bahas musim buah-buahan yang ada di bulan November?? Bukan,bukan itu… Oohh, pasti mau bahas fashion yang lagi trend di bulan November kaaan?? Bukan jugaaaa…. Jadi, apa dooong?? Mmmm… kasih tahu gak yaaaa?? Hheeee…

Lanjuuuttt… Bagi mahasiswa di Jakarta Bulan November di tahun ini banyak yang mengalami musim Ujian not Ujan yaaaa. Hihiiiihiii…. Tanya kenapa?? Yeah, karena bagi kebanyakan mahasiswa di Jakarta sedang menjalani UTS alias Ujian Tengah Semester. Tak terkecuali dengan saya yang juga dilanda ‘musim’ ini. Entah kenapa setiap kali tiba ‘musim’ ini selalu saja diwarnai dengan rasa cemas, kuatir, takut, gundah plus gulana dan sederet tingkah lainnya yang saya amati terhadap rekan-rekan sejawat.

Saking takutnya mungkin, ada yang berkali-kali merapel mantra (ups, salah) maksudnya merapel materi sampai menulis apa yang dirapel tersebut dengan font size yang paling small di selembar kertas. Dan lebih gelinya lagi, ketika saya duduk di bangku ujian, macem anak sekolah meja yang seharusnya putih bersih, mendadak terkena virus cacar yang tak seharusnya, berbintik-bintik hitam layaknya koloni kutu yang membentuk huruf demi huruf. Alih-alih ingin menghilangkan virus, para visitor meja tidak segan untuk memasang anti virus dengan menempelkan ‘koyo/salonp*s’ (tuh meja pegel kali yak, tiap hari menanggung tekanan para tangan ‘penguasa’ heeee). Ternyata dugaan saya salah besar, tuh koyo alias label gak jauh beda dengan kondisi si meja sebelumnya, anti virus itu juga sudah dikerumuni bakteri-bakteri huruf. Ckckck, kasian ya si meja bukannya sembuh malah tambah penyakitnya, semoga sang empunya mampu memberikan antibodi yang trendi. Mungkin kalau si meja bisa teriak dia akan minta tolong ke orang-orang buat ngelepasin tuch ‘koyo’ yang ga ada pengaruh sama sekali buat si meja karena ‘penguasa meja’ sebelumnya mungkin lupa atau bagaimana membiarkan ‘koyo’ tersebut masih aja nempel kayak perangko, hohoho.

Saat Ujian berlangsung, kegelian yang lebih parah pun tak bisa saya hindari hingga membuat saya tertawa terpingkal-pingkal (naaah, kalo ini tertawanya cukup dalam hati saja, repot nanti kalau ketahuan saya ketawa sendiri..heeee) melihat peserta Ujian yang dengan jurus sulapnya menghadirkan selembar kertas ‘mantra’.  lalu dengan sekejap mata, kertas ‘mantra’ itu dapat menghilang sodara-sodara…wow it’s magic!! Penasaran saya dengan aksi sulapnya tersebut, bukannya ngerjain soal saya malah memperhatikan aksinya tersebut (yaaah, itung-itung hiburan gituuuuu :D), dari mana datang dan perginya kertas itu?? Dan ternyata, kertas tersebut ada di atas kursi yang didudukinya sodara-sodara, weleh..weleh.. :-(  dengan posisi duduk agak sedikit miring ke kanan lalu dengan secepat kilat diambilnya kertas tersebut, dengan secepat kilat pula dibacanya ‘mantra’ yang tertulis didalamnya dan dengan secepat kilat pula kertas tersebut mampir kembali di bandaranya. Saluuuut, karena tak sedikitpun sang mandor (baca: pengawas ujian) curiga terhadapnya. Benar-benar aksi sulap yang super duper sukses (tapi tidak untuk ditiru lhoooo..)

Mmmmm…. Ternyata style klasik itu masih aja ada peminatnya di era pola pikir modern sekarang ini (mau tahu apa itu pola pikir modern?? Wait the next my note🙂 ) dan bertebarnya fasilitas kemudahan untuk mengakses ‘informasi’ (baca: nasehat/tausiyah/motivasi/tips/sejenisnya). Hey Guys, Wake Up!! We are ‘maha + siswa’ not ‘siswa’. Let’s make different things!! Kalau disamain sama siswa nanti maraaahhh..hehehe… Semoga saja, masih ada sedikit ‘ngeh’ buat para pecinta ‘style klasik’😉  Jumlahnya memang tidak banyak tapi kalau dibiarkan virus tersebut akan menjangkiti sistem kekebalan ‘iman’ seseorang yang kadang naik, kadang turun (wa yazid, wa yankus).

Ternyata memang, tidak hanya pemerataan ekonomi saja yang harus digalakkan, tapi pemerataan nilai-nilai keluhuran juga wajib mendapat sorotan tajam. Karena percuma saja kalau pembangunan ekonominya keren, tapi SDM-nya jauh dari keren, maka hanya akan menjadi pelangi yang muncul sesaat saja, bahkan bukan tidak mungkin awan hitam nantinya yang akan tetap tinggal, na’udzubillah min dzalik. Next, tidak usah pusing harus mulai dari mana dulu, adanya langkah kongkret dari diri sendiri juga sudah cukup kalau memang masing-masing individu menyadari akan urgensi dari nilai-nilai keluhuran.

But, whatever it was, di tengah kemelut pikiran yang masih menggelayut hingga hampir overload, selalu saja ada moment-moment tak terduga yang membuat senyum kembali mengembang. Masih seperti yang dulu, musholla masih menjadi ‘best of the best place’-nya para penghuni kampus yang muslim, selain untuk sholat biasanya beberapa rekan-rekan melakukan aktivitas lain entah itu membaca Qur’an, membahas materi atawa tugas, menunggu jam masuk kuliah berikutnya ataupun hanya sekedar untuk menyelonjorkan kaki sambil memainkan gagdetnya, semua terlihat sangat rileks dan nyaman melakukan aktivitasnya masing-masing.

Seperti biasa, setelah sholat usai, mukena langsung ku kembalikan ke ‘hanger’nya. Tak lama kemudian, setelah rapi-rapi dan menggendong tas ransel, karena sudah menjadi habit spontan saja ku ulurkan tangan pada sekelompok rekan yang kurang ku kenal sebagai tanda izin undur diri. Alhamdulillah, satu per satu dari kelompok tersebut dengan senang hati menyambangi uluran tangan ku sambil memperkenalkan nama masing-masing. (Me): “Sayu”. (1st sista): “Ina”. (2nd sista): “Yana”. (3rd sista): “Lisna”. Me: “Hahahaaha, Ina, Yana, Lisna. Triple Na😀 ”. Sejurus kemudian mereka pun ikut tertawa tanda bahwa mereka paham apa yang saya tertawakan. “Kok bisa sich satu kelompok ‘na’ semuanya??”, tanyaku dalam hati. Mungkin saja sudah janjian mau kumpul bareng. Atau mungkin saja memang sebuah pertemuan tanpa disengaja. Atau bisa jadi mereka juga nggak ngeh kalau panggilan nama mereka sama jika hanya disebut dua huruf dari belakang nama mereka masing-masing.  Tapi, entahlah karena yang ku yakini, begitulah cara Alloh menghibur hambaNya, natural dan sederhana, sesederhana Dia mengungkapkan ke-MahaBesaran-Nya (*bijakmodeon).

Dan lagi-lagi, seperti yang saya ungkapkan di awal, bahwa selalu saja ada moment-moment tak terduga yang membuat senyum kembali mengembang. Terbukti, ketika ku pandangi suasana malam dengan rintik-rintik hujan yang gemericik, dari balik kaca jendela busway terlihat kondisi jalanan yang basah disertai dengan antrian panjang kuda besi (baca: mobil) yang melamban. Gemericik hujan membuat kuda besi harus menggerakkan amunisinya agar tidak terhalang pandangannya. Sepasang wiper  dijagokan sebagai amunisi terhandal dalam menangani masalah tersebut. Wiper pun bergerak dengan irama dan gerakan yang konstan menyapu titik-titik air.

Dengan gerakan tanpa sadar, ku lemparkan pandangan dengan sudut pandang berbeda dan dengan landscap yang lebih luas. Terlihat menarik sekali, ketika semua kuda besi merelakan amunisinya untuk bergerak vertikal ke kiri dan bergerak horizontal ke kanan, terus bergerak dan hampir-hampir seperti tarian yang melenakan diiringi sorotan bintang darat yang berkilauan. Sungguh, sebuah pemandangan yang keren bagi yang dapat menyadarinya bak oase di tengah padang aspal tak berujung. Dan ku tegaskan kembali bahwa begitulah cara Alloh menghibur hambaNya, natural dan sederhana, sesederhana Dia mengungkapkan ke-MahaBesaran-Nya.

Sungguh, jika setiap diri kita mampu melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda akan banyak sekali temuan-temuan yang menakjubkan yang mampu membuat senyum kembali terukir dan urat-urat syaraf tak terpelintir, rasa syukurpun kian menderu bagai petir, pertanda kabar baik bahwa hujan akan segera mengalir. Tidak akan ada lagi korban-korban ‘kejahatan’ jika mereka mampu mencari hiburan yang ada di sekitar pandangan mereka.

Pernah saya berdiskusi dengan salah satu rekan yang menurut saya patut dijadikan teladan. Sebut saja Mrs. Bunga. Beliau adalah seorang wanita yang sudah berkeluarga, memiliki empat orang anak, bekerja di luar rumah dan sedang menyelesaikan kuliah S2-nya. Sepertinya semua sebutan melekat pada wanita yang satu ini. Istri iya, ibu iya, karyawati iya, mahasiswi iya, dan masih seabreg sebutan lainnya ketika beliau harus memposisikan diri sebagai teman, saudara, bibi, bude, pakde (eh, salah ding, ini mah sebutan untuk kakak laki-laki dari ibu atau bapak..hheee).

Lanjut, satu pertanyaan yang sempat terlontar dari mulut saya ketika itu, saya menanyakan perihal tingkat stres seorang wanita yang memiliki segudang aktivitas. Tanpa disangka, simple sekali beliau menjawab, “Tentunya setiap aktivitas yang dijalani seseorang berpotensi untuk mengundang masalah. Tapi, Alhamdulillah mba, ketika saya ada masalah di tempat kerja. Kampuslah yang saya jadikan tempat rekreasi, sarana untuk menghibur diri. Dan ketika ada masalah di kampus, keluargalah yang menjadi obatnya. Begitupun ketika ada masalah di keluarga, tempat kerjalah yang mampu meredam gejolak emosi. Begitu seterusnya. Sehingga, kemanapun saya pergi, merasa kalau saya ini seperti tidak punya masalah. Bukan berarti ingin lari dari masalah, tapi setidaknya dapat memberikan jeda kepada saya untuk dapat merubah suasana hati dan mampu untuk berpikir secara jernih. Dengan begitu, saya tidak terbebani dengan berbagai permasalahan yang muncul yang bikin pusing kepala dan stress lebih lanjut”. Kalau nih jawaban ada di FB, langsung saya kasih jempol terbaik untuk jawaban tersebut. Gimana, keren khaaannnnn???

Yakinlah, selama kita berada pada the right process, the right way, Alloh pun akan mempertemukan kita dengan the right result, the right choice, the right person dan the right-the right yang lainnya. Don’t worry be happy. Karena akan selalu saja ada moment-moment tak terduga yang membuat senyum kembali mengembang. Begitulah cara Alloh menghibur hambaNya, natural dan sederhana, sesederhana Dia mengungkapkan ke-MahaBesaran-Nya.

-Semoga dapat Dipikirkan kembali-

Have a Wonderful Day😉

One response to “Triple *#na*

  1. Pingback: Pola Pikir Modern | Sayudjauhari's Blog·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s