Tentang anak…


Butuh waktu untuk meresapi tulisan ini (30 menitan), semoga bermanfaat..

Audzubillahiminassyaithonirrojiim, Bismillah hirrahman nirrohim.


Apakah teman2 pernah liat orang lain, ibu yang sngt menjaga anaknya? Kadang kita melihat ibu yang mengantar putrinya ke sekolah, anak itu dipakaikan kerudung dengan rapih sampai rambutnya kalau bisa jangan ada yang keliatan. Tapi bagaimana dengan ibunya? Begitu juga dengan ibu yang mengantar anak laki2, anak itu dipesan supaya jangan nakal dan menjaga sholatnya, tapi ko sepintas saya liat dari penampilan ibunya, tidak mencerminkan ketaatan dengan Allah.SWT ? Mohon maaf, yang pernah saya liat ibu2 itu menggunakan kaos ketat dan celana diatas dengkul. Menurut saya ibu muda tersebut masih menarik & saya rasa laki2 normal yang melihat pandangan pertamanya ke ibu itu juga akan menilai demikian.

Hidayah adalah hak mutlak milik Allah.SWT, dan Allah.SWT akan memberi hidayah itu diberikan kepada siapa yang diketahuiNya karena mau menerima petunjuk.

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.. [QS:28 Al Qashahs/ 56]

Sekarang, kalau sesesorang itu selalu menjauh dengan perintah Allah, tidak mau mendengar dan melaksanakan apa yang dierintahkanNya, apakah itu termasuk orang yang mau menerima petunjuk Allah?? Dengan keMaha Tahuannya, Allah mengerti siapa yang mau menerima petunjukNya, bersyukurlah jika kita termasuk yang demikian. Pengawasan terhadap anak maupun pasangan kita (suami / istri) sulit dilakukan selama 24 Jam,lalu bagaimana dan siapa yang bisa? Allah.SWT, caranya dengan ke-Maha KuasaanNya.

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. [QS:17 Al Israa’/ 24].

Lihat, secara terjemahan saja sudahterlihat konsekuensinya, bahwa kalau kita ingin anak kita mendoakan kita, maka kita berusaha dulu untuk mendidik mereka dari kecil, tentu pendidikan agama yang mengajarkan mereka supaya taat pada aturanNya. Pelajaran yang diberikan akan lebih mengena jika diberi tauladan / prilaku dari yang memberi pelajaran. Setelah kita berusaha mendidik diri kita untuk taat kepadaNya, kemudian mendidik anak kita untuk taat kepadaNya, insyaAllah, kita akan mendapatkan yang terbaik dariNya

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik..

[QS:29 Al Ankabut/ 69]

Audzubillahiminassyaithonirrojiim, Bismillah hirrahman nirrohim.


Bagi Antum dan Antuma yang sedang bingung mengenai kriteria calon suami/istri, WAJIB & KUDU baca artikel ini yang Insya Allah bisa memberikan inspirasi dan pencerahan bagi Antum dan Antuma sekalian ….

Artikel ini sengaja saya reply dari salah satu sahabat maya saya, yang selalu bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan tausiyah mengenai Problematika Kehidupan.

Maskur yaa Akhii …

(Semoga engkau selalu mendapat limpahan rahmat serta karunia-Nya, Amien….)

Jangan pernah berhenti untuk berdakwah, Cayoooo !!!

Semoga Bermanfaat

Audzubillahiminassyaithonirrojiim, Bismillah hirrahman nirrohim.


Nah untuk mendapat anak dan pasangan yang baik gimana? Berikut ini ada artikel dari akhwat yang baik, dia mengambil dari sebuah situs islam www.myquran..org .Dia mengirimkan ini kepada saya pada awalnya untuk meyakinkan bahwa dalam mencari jodoh/ pasangan hidup hendaklah mengesampingkan kemewahan, adat/ suku, dan fisik yang sifatnya duniawi.

—————————————————————————————————————————————————————————

Renungkanlah Sebelum Terlambat

Barangkali jika seorang pemuda ditanya, “Apakah kriteria calon istri yang Anda inginkan?” ia akan menjawab, “Saya ingin punya istri yang cantik, kaya, keturunan ningrat, baik akhlaknya dan bla… bla… bla…” sembari menyebutkan kriteria-kriteria yang bercampur angan-angan setinggi langit. Wajar. Demikian pula jika seorang gadis ditanya, “Pria seperti apakah yang Anda idamkan?” ia tentu akan menjawab, “Saya mendambakan pria yang kaya, tampan, gagah, bertanggungjawab, baik hati, pengertian, dan bla… bla… bla…” sambil menyebutkan impian-impiannya. Salahkah? Tidak.. Semua itu hampir menjadi kesepakatan secara “tak tertulis” dan “tak terucap” bagi setiap orang, atau istilah lainnya adalah “manusiawi”.

Namun pernahkah seseorang yang masih lajang berpikiran, “Saya ingin mencari pendamping hidup yang bukan hanya mau dan pandai menjadi istri/suami yang baik, tapi juga bisa dan siap menjadi seorang ayah/ibu yang bijak”? itu yang mungkin jarang dipikirkan oleh sebagian orang –untuk tidak mengatakan mayoritas. Sebagian orang hanya berpikiran pendek sehingga boleh dikatakan agak “egois” dalam menentukan calon pasangannya. Egois? Ya, karena ia hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri dan berusaha memuaskannya tanpa melihat kepentingan lain yang juga tak kalah pentingnya, yaitu masa depan anak-anaknya yang kelak akan menjadi penerusnya. Jika seseorang mau berpikir sejenak, tentu ia akan mempertimbangkan lagi kriteria-kriteria yang telah ia pasang sebelumnya untuk calon pasangannya.
Saya teringat kembali nasehat seorang teman ketika mengatakan, “Kalau kamu mau mencari istri, perhatikanlah, apakah dia layak untuk menjadi ibu buat anak-anakmu nanti”. Sebuah nasehat singkat, padat dan jelas. Hal ini tentu saja sesuai dengan ajaran Islam yang menganjurkan para pemuda untuk memilih calon pendamping hidupnya yang akan menjadi istrinya sekaligus ibu bagi anak-anaknya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Pilihlah (lahan yang cocok) untuk (menebar) benih-benihmu” [HR. Ibnu Majah, Hakim dan Baihaqi].

Artinya, jangan sembarangan menebar “benih” di segala tempat, akan tetapi hendaklah memperhatikan betul-betul apakah “tempat” tersebut cocok untuk ditanami “benih” sehingga diharapkan kelak bisa menjadi tanaman yang subur dan sehat. Sebuah nasehat yang sangat lembut dan penuh kiasan, namun begitu tajam.

Dalam Al-Quran, Allah juga memperingatkan para orangtua agar memperhatikan nasib anak-anak mereka di masa depan. Perhatikan ayat berikut ini: “Dan hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.” [QS:4 An-Nisa/ 9].

Tentu saja lemah yang dimaksud di sini bukan hanya lemah secara ekonomi saja, melainkan juga lemah secara spiritual (ruhiyah), sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al-Qusyairi. Artinya, jangan sampai orangtua meninggalkan generasi yang lemah agamanya sehingga alih-alih menjadi penerus bagi generasi sebelumnya, justru menjadi generasi yang merusak warisan para pendahulunya. Na’udzubillah.

Dalam Al-Quran, Allah menyebutkan beberapa contoh para orangtua yang bijak dalam mendidik anak-anaknya. Perhatikanlah ayat berikut ini:

“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar’” [QS:31 Luqman/ 13].

Dalam ayat setelahnya Lukman melanjutkan nasehatnya,

“Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai..” [QS:31 Luqman/ 16-19].
Lukman adalah seorang budak laki-laki yang berkulit hitam, bertubuh pendek, berambut ikal dan memiliki bibir dan telapak kaki yang tebal, berasal dari negeri Habasyah (sekarang Ethiopia ), dan bekerja sehari-hari sebagai tukang kayu. Namun dikarenakan kesalehan dan ketakwaanya kepada Allah, dia mendapatkan kemuliaan sedemikian tinggi sehingga kisahnya diabadikan dalam kitab suci Al-Quran yang akan selalu dibaca hingga akhir zaman. Kata-katanya yang selalu mengandung hikmah menjadikannya dijuluki sebagai Al-Hakim (yang penuh hikmah). (lihat Tafsir Ibnu Katsir)
Dalam ayat lain, Allah menyebutkan kisah tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Yakub yang berwasiat kepada anak-anaknya agar berpegang teguh pada agama hingga mati.

Perhatikanlah ayat berikut ini:

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): ‘Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam’” [QS:2 Al Baqarah/ 132].
Perhatikanlah, beliau tidak mewasiatkan kepada anak-anaknya agar mereka menjadi orang-orang yang kaya raya, atau menjadi ilmuwan yang hebat, atau wasiat-wasiat lain yang bersifat duniawi dan sementara. Namun wasiat yang beliau sampaikan yang utama adalah agar mereka semua menjadi orang-orang yang beriman dan berislam hingga akhir hayat, sebagaimana para Salaf Salih dahulu berkata, “Aku tidak peduli mati di manapun dan kapanpun, asalkan tetap dalam keadaan muslim.”
Itulah yang seharusnya diperhatikan oleh para orangtua terhadap masa depan anak-anak mereka, terlebih bagi para calon orangtua. Tentu saja semua itu dimulai sejak awal, dari diri sendiri dan tentu saja dalam memilih calon pendamping hidup sebelum menikah. Dari diri sendiri dilakukan dengan cara memperbaiki kualitas diri sebaik mungkin, karena seorang anak tak lain dan tak bukan adalah “copy-paste” dari orangtuanya sendiri. Sebagaimana pepatah mengatakan, “Mangga jatuh takkan jauh dari pohonnya.” Begitu juga hubungan antara anak dengan orangtuanya. Jika orangtuanya saja belum “beres” dan masih perlu “dibereskan”, bagaimana nanti dengan anak-anaknya? Karena tidak bisa dipungkiri bahwa keluarga adalah madrasah pertama bagi seorang anak sebelum ia memasuki madrasah-madrasah yang lainnya. Oleh karena itu, orangtua adalah kunci pertama kesuksesan anak.
Dalam Islam, tatacara untuk mendapatkan generasi yang saleh pun telah diatur sedemikian rupa. Bahkan dalam berhubungan suami-istri, Islam telah mengajarkan umatnya agar berdoa sebelum memulainya, “Allahumma jannibnas syaithaana wa jannibis syaithaana maa razaqtanaa” (Ya Allah, jauhkanlah kami dari Syaitan, dan jauhkan pula rezeki /anak-anak kami darinya).

Setelah mengetahui semua ini, masihkah seseorang berpikiran ingin memiliki pasangan hidup yang “begini” dan “begitu” tanpa mempertimbangkan faktor ke depan yang sangat jauh dan bahkan sangat jauh lagi, yaitu masa depan keluarga beserta anak-cucu kelak di akhirat. Karena menikah bukan hanya memuaskan kebutuhan biologis semata, melainkan juga sebagai sarana mencetak kader-kader Islam yang tangguh sebagaimana para Salaf Salih terdahulu.

Semoga catatan kecil ini bisa mengingatkan kembali tentang urgensi keluarga dalam membentuk generasi-generasi muda Islam yang akan memperjuangkan agama ini sampai titik darah penghabisan. Dan semoga kita termasuk di antara hamba-hamba-Nya yang saleh dan diridhoi-Nya. Amin. Wallahu A’lam Bis Showab.

Damaskus, 29 April 2009 00:29

—————————————————————————————————————————————————————————

Lelah ya? Afwan, Semoga bisa mengambil manfaat dari apa yang tertulis/ terbaca, 1 lembaran lagi..

Jadi dengan mendapatkan pasangan yang memprioritaskan agama Allah, maka diharapkan ia mendapat pasangan yang  pasti ditolong oleh Allah.SWT

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. [QS:47 Muhammad/ 7]

Konsepnya: Berbuat baik => dapet pasangan yang baik => dapet kebaikan dari Allah, termasuk kebaikan dalam mendidik anak-anak dll.

Eits…tapi ingat, Agama juga menunjukan aturan2 untuk kebaikan2 itu,

Sejarah dan syariat mengajarkan, mulai dari diri sendiri (bapa dan ibunya) saat menjalani masa muda/ menjalani kehidupannya, kemudian niat ibadah untuk menyatukan cinta yang halal, lalu doa dan ibadah saat berhubungan suami istri, memberinya makan dengan sesuatu yang halalan-toyiban, kemudian mendidiknya untuk sholat, sambil diiringi dengan memberi contoh/ panutan, kemudian menyuruh dan memberi hukuman saat mencapai usia 7 tahun, dst, dst.. (mudah2an saudara2ku sudah tau semua tentang dalil2nya).

Dan untuk orang2 yang paham serta mau mengikuti aturanNya, insyaAllah sudah mengetahui hal itu.

Lalu bagaimana dengan muslimin/ muslimah yang akan mencari jodoh dikaitkan dengan keinginan orangtuanya?

Orangtua adalah manusia juga, merekapun bisa khilaf/ salah. Dalam mentaati orangtua harus dilihat kepentigannya apakah sesuai syariat atau tidak.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. QS:17 Al Israa’/ 23-24)

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.[QS:31 Luqman/ 14-15]

Dalam setiap ayat yang memerintahkan manusia untuk tunduk pada manusia lain selalu diawali dengan kalimat tauhid “..supaya kamu jangan menyembah selain Dia..”. Artinya, sebaik2 kita dalam berinteraksi dengan manusia adalah jika tidak melanggar syariat/ perintahNya dengan tetap berusaha berkata baik kepada mereka. Sudah banyak dalil2 untuk menmpatkan prioritas mana yang diutamakan dalam mencari jodoh “..dinikahi karena 4 perkara,..utamakanlah agamanya niscaya akan beruntung, kewajiban mahar maksimal dari laki2 untuk menghormati wanita sekaligus kemuliaan wanita yang mempermudah calon/ laki2nya, serta peringatan Rasulullah.SAW tentang menerima laki2 yang diridhoi agama dan akhalqnya..”. MasyaAllah, betapa aturan Allah itu sangat mulia dan adil buat hambaNya. Saya bukan orang yang patut untuk menafsirkan ayat2 Allah/ hadits2 rasulNya, silahkan baca tafsir Ibnu Ktsir/ Sayid Qutub untuk lebih jelasnya.

Seorang Ikhwan sudah membuktikannya secara berani dan halus kepada orangtuanya, bahwa dia akan berusaha mencari wanita sesuai dengan syariat, terlepas dari dominasi suku/ ras, kerjaan/harta, usia/ kecantikan dan hal lain yang sifatnya duniawi semata. Padahal sebelumnya, orangtuanya mempunyai pengaruh yang kuat akan dominasi suku, usia dan profesi/ kerjaan (Kepunyaan Allahlah segala puja dan karunia).

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. [QS:10 Yunus/ 62-64].

(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.[QS:4 An Nisa/ 13]. [Aji Baskoro]

2 responses to “Tentang anak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s